A
.
Pengertian Teknologi Pendidikan

Istilah teknologi berasal dari bahasa yunani. yunani technologia yang menurut webster dictionary berarti sistematic tretment atau penangganan sesuatu secara sistematis, sedangkan techane sebagai dasar kata teknologi berarti art, skill, science atau keahlian, keterampilan, ilmu. Sedangkan, pendidikan merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan dan mengarahkan manusia untuk berfikir kritis dan idealis. Pendidikan bisa juga disebut mata rantai dalam kehidupan. Jika pendidikan tidak berjalan dengan semestinya, maka hal ini akan sangat berpengaruh bagi kehidupan bangsa. Pendidikan berperan penting untuk mengembangkan manusia secara holistik baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap guna mempersiapkan manusia menjadi individu yang mampu memberikan manfaat dan berkontribusi secara berkelanjutan.[1] Jadi teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis, menurut sistem tertentu yang akan dijelaskan.

Teknologi pendidikan dituntut untuk mengembangkan dan mencari alternatif baru agar setiap orang semakin mudah dan efektif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut, sehingga anak mampu menghadapi berbagai kemungkinan dan perubahan yang akan terjadi. jadi untuk itu teknologi pendidikan merupakan bidang ilmu yang merekomendasikan berbagai alternatif pemecahan permasalahan pembelajaran dan pendidikan, baik pada pendidikan formal, nonformal, dan informal. Teknologi pendidikan sebagai suatu bidang ilmu tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan dari bidang ilmu lainnya untuk memaksimalkan fungsi teknologi pendidikan itu sendiri.

Teknologi pendidikan hampir menghilangkan hambatan pengajaran massal. Menurut J.K. Galbraith ada dua karakteristik utama dari setiap teknologi. Dua karakteristik ini ia sebutkan dalam bukunya "The New Industrial State" sebagai penerapan sistematis pengetahuan ilmiah pada tugas-tugas praktis dan pembagian tugastugas praktis menjadi bagian dan sub-bagian. Teknologi Pendidikan sangat penting di negara berpenduduk padat seperti Indonesia di mana pendidikan massal sangat diminati dengan sumber daya yang terbatas. Teknologi pendidikan merupakan syarat utama untuk model belajar-mengajar formal, informal maupun nonformal.[2]

Pada dasarnya teknologi itu sudah diterapkan dan diaplikasikan oleh manusia sejak zaman dahulu. Ilmuwan lain juga mengemukakan pendapatnya mengenai teknologi salah satunya ialah McGinn mendefinisikan teknologi sebagai sebuah aktifitas manusia yang memiliki nilai yang terhubung dengan social budaya dan lingkungan dalam hal konseptualisasinya.[3]

Secara operasional, teknologi pendidikan dapat dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia. Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti, yaitu pertama yang sistemik atau beraturan, dan kedua yang sistemik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakukan dengan langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasikan kemungkinan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan kriteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan mengujicobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya.

Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan masalah, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. teknologi pendidikan pada dasarnya lahir dan berkembang dari pemikiran dan keinginan masyarakat (khususnya pendidik) agar pendidik dan pembelajaran (pengetahuan, keterampilan serta nilai dan sikap) dapat diberikan dengan mudah dan efektif kepada peserta didik khususnya, dan manusia umumnya. Dilain pihak ada pendapat bahwa teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan dan penilain sistem-sistem, teknik, dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia.

Teknologi pendidikan tidak hanya sekadar penerapan teknologi dalam pendidikan (penerapan berbagai peralatan yang canggih dalam kegiatan pendidikan), tetapi teknologi pendidikan harus mengkaji dan menelaah berbagai aspek, baik dari aspek kemanusiaan maupun dari aspek sosial dan kemasyarakatannya, serta mengkaji dampak dari penerapan teknologi pendidikan itu sendiri. Pada hakikatnya teknologi pendidikan adalah suatu pendekatan yang sistematis dan kritis tentang pendidikan. teknologi pendidikan memandang soal mengajar dan belajar sebagai masalah atau problema yang harus dihadapi secara rasional dan ilmiah. 

B.   Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan

Ruang lingkup teknologi pendidikan mencakup beberapa wilayah atau kawasan yang akan semakin berkembang dan meluas. Hal ini dikarnakan teknologi akan semakain mengalami perkembangan yang signifikan yang mengakibatkan pendidikan dan disiplin ilmu lainya yang relevan sebagai landasan teknologi pembelajaran juga akan mengalami perkembangan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan belajar yang spesifik.  Oleh karena itu, jika kita berbicara teknologi pendidikan maka ruang lingkup teknologi pendidikan tersebut adalah desain pembelajaran, pengembangan, media, proses pembelajaran, dan penilaian. Beberapa penjelasan tentang ruang lingkup teknologi pendidikan dijabarkan sebagai berikut:[1]

1.   Wilayah Desain

    Yang dimaksud dengan desain di sini adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Kawasan desain paling tidak meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu: desain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pembelajar.

a.  Desain sistem pembelajaran

Meliputi langkah-langkah diantaranya:

1) Penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari) 

2) Perancangan (proses penjabaran bagaimana cara mempelajarinya)

3) Pengembangan (proses penulisan atau produksi bahanbahan pelajaran)

4) Pelaksanaan atau aplikasi (pemanfaatan dan strategi), 

5) Penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran).

b. Desain pesan

Desain pesan adalah: "perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan", agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi dan daya tangkap. Karakteristik yang lain dari desain pesan adalah harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tugas belajarnya. Desain pesan akan berbeda tergantung kepada jenis medianya, apakah bersifat statis atau dinamis. Pembentukan konsep, pengembangan sikap, pengembangan keterampilan, strategi belajar atau hafalan.

c. Strategi pembelajaran

  Strategi Pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peserta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan belajar dalam suatu pelajaran. Teori tentang strategi pembelajaran meliputi situasi belajar,dan komponen belajar dan mengajar.

d. Karakteristik siswa.

Segi-segi latar belakang pengalaman pembelajar yang mempengaruhi terhadap efektivitas proses belajarnya. Secara psikologis yang perlu diperhatikan dari karakteristik pembelajar ialah kemampuan yang bersifat potensial maupun kecakapan nyata, dan kepribadiannya seperti: sikap,emosi, motivasi, dan aspek kepribadian lain.

2.   Wilayah Pengembangan

Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik, di dalamnya meliputi: teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu.

a.    Teknologi Cetak

Cara untuk membuat atau menyampaikan bahan pelajaran, seperti buku, bahan visual yang statis terutama melalui pencetakan mekanis atau photografis.

b.    Teknologi Audiovisual

Merupakan cara membuat dan menyampaikan bahan pelajaran dengan menggunakan peralatan dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.

c.     Teknologi Berbasis Komputer

Teknologi berbasis komputer merupakan cara-cara membuat dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor.

d.    Teknologi Terpadu

Merupakan cara terpadu untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer.

3.   Wilayah Media

Wilayah media dalam teknologi pendidikan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.

a.     Pemanfaatan media

Menggunakan yang sistematis dari sumber untuk belajar. Misalnya, bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindak lanjuti dan dipolakan sesuai dengan bentuk belajar yang diinginkan.

b.     Divusi Inovasi

Divusi inovasi adalah Proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah untuk terjadinya perubahan.

c.     Implimentasi dan Institusionalisasi

Implementasi adalah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasi). Sedangkan institusionalisasi penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi. Untuk menilai pemanfaatan harus ada implimentasi. Bidang implimentasi dan institusioanal didasarkan pada penelitian, tujuan implimentasi adalah menjamin penggunaan yang benar oleh individu dalam organisasi. Jadi implementasi dan institusionalisasi tergantung pada perubahan individu maupun organisasi.

d.    Kebijakan dan Regulasi

Aturan dan tindakan yang mempengaruhi difusi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Kebijakan dan peraturan pemerintah mempengaruhi pemanfaatan teknologi. Kebijakan dan regulasi biasanya dihambat oleh permasalahan etika dan ekonomi.[2]

4.   Wilayah Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media. Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumbersumber teknologi dalam kurikulum.

a.     Pengelolaan proyek

Pengelolaan proyek meliputi perencanaan, monitoring dan pengendalian proyek desain dan pengembangan.

b.    Pengelolaan sumber

Pengelolaan sumber mencakup perencanaan, pemantauan dan pengendalian system pendukung dan pelayanan sumber.pengertian sumber dapat mencakup personil, keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas dan sumber pembelajaran.

c.     Pengelolaan sistem penyampaian

Meliputi perencanaan, pemantauan, pengendalian, “cara pendistribusian bahan pembelajaran diorganisasikan. Hal tersebut merupakan suatu gabunagan medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran kepada pelajar.

d.    Pengelolaan informasi

Meliputi perencanaan, pemantauan dan pengendalian cara menyimpan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Pengelolaan informasi penting untuk memberikan akses dan keakraban revolusi kurikulum dan aplikasi desain pembelajaran. Pengelolaan sistem penyimpanan informasi untuk tujuan pembelajaran tetap akan merupakan komponen penting dari bidang teknologi pembelajaran.

5.   Wilayah Penilaian

Penilaian dalam pengertian yang paling luas adalah aktivitas manusia sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menakar nilai aktivitas atau kejadian berdasarkan kepada sistem penilaian tertentu. Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar, mencakup analisis masalah, pengukuran acuan patokan, penilaian formatif, dan penilaian sumatif.

Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan memiliki ruang lingkup yang sangat luas, sebagaimana juga luasnya pemahaman tentang konsep pendidikan itu sendiri. Tercakup didalamnya berbagai aspek yang berbeda mulai dari perencanaan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian untuk mendukung pendidikan modern. Dengan demikian, pemahaman yang luas tentang teknologi pendidikan sangat penting bagi seorang pengajar atau pendidik guna terwujudnya tujuan pendidikan yang diinginkan.

C.   Sejarah Teknologi Pendidikan

Kaum sufi sekitar 500 tahun sebelum masehi dikenal sebagai kaum “penjual ilmu pengetahuan” yang berarti orang yang memberikan Pelajaran mendapatkan upah.[1] Mereka juga bisa dikatakan sebagai nenek moyang teknologi pendidikan. Selain itu, adanya kebiasaan yang dilakukan kaum sufi ini seperti menggunakan jubah untuk menarik perhatian dalam hal ini sekarang berkembang menjadi toga. Selain itu juga pembelajaran mereka menggunakan mimbar. Dari kebiasaan yang terdapat di kaum sufi ini juga lah menjadi dasar sehingga mereka disebut sebagai nenek moyang teknologi pendidikan.

Di Amerika serikat teknologi pendidikan sebenarnya sudah ada sejak lama.[2] Hal ini dikarenakan terdapat penemuan dahulu yang menggunakan alat sederhana dalam pembelajaran, contohnya seperti penggunaan batu, kulit kayu, kulit Binatang, dan lain sebagainya. Semua hal ini merupakan mulainya terbentuk adanya cikal bakal teknologi pendidikan. Para pakar pendidikan berkeinginan untuk menjadikan pembelajaran yang ada di dunia pendidikan menjadi efektif dan efesien. Maka dari itu mereka mencari cara untuk mendapatkan solusi sehingga pendidikan akan terus berkemabang dari masa ke masa. Dari percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh individu maupun kelompok professional inilah kemudian membentuk sebuah kesepakatan untuk mendirikan suatu bidang studi yang dinamakan teknologi pendidikan.

Pada awal tahun 1900-an kegiatan dalam bidang pembelajaran dalam suatu pendidikan terlaksana secara terbatas. Keterbatasan ini dapat dilihat dari penggunaan papan tulis, media cetak seperti buku, serta audio dan visual sebagai alat dalam terlaksananya suatu pembelajaran. Kegiatan tersebut mengarah pada berfariasinya pengalaman belajar peserta didik saat tatap muka. Jadi penggunaan media pembelajaran yang bermacam ini memudahkan pembelajar untuk memahami ide atau gagasan yang disampaikan dalam proses pendidikan. Sehingga pendidikan bukan hanya terfokus pada pendengan saja namun juga penglihatan.

Sepuluh tahun kemudian berkembanglah penggunaan siaran radio dan televisi, dimana dalam hal ini radio dan televisi bukan hanya digunakan dalam dunia pendidikan namun juga di luar arena pendidikan. Pada tahun 1920-1930 an ini telah dimulai pengembangan dan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan yang bukan hanya saja sebagai keperluan sebagai alat komunikasi dan penghibur juga digunakan dalam pendidikan. Pada tahun ini penggunaan teknologi dalam pendidikan yakni penggunaan gambar sorot dan film slide.

Dan pada tahun 1970-an terjadinya perkembangan teknologi pendidikan yang pesat, yang ditandai dengan munculnya konsep desain system pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran sudah dilakukan secara menyeluruh terhadap komponen system pembelajaran serta teknologi dijadikan sebagai cara menjadikan yang efektif dan efisien.

Dan kemudian pada tahun 1990-an muncullah computer yang digunakan sebagai pembelajaran yang interaktif melalui jaringan  komunikasi. Kemudian bermuncullah alat komunikasi lainnya seperti leptop, smart phone, tablets dan lain sebagainya yang digunakan saat pembelajaran di dunia pendidikan. Alat-alat tersebut sangat efesien dalam penggunaannya dikarenakan alat tersebut mudah dibawa dan juga memiliki banyak fungsinya. Dengan berkembangnya alat komunikasi yang dapat memudahkan dalam berkomunikasi jarak dekat maupun jauh, maka saat ini jika pendidikan tidak menggunakan teknologi dikatakan ketinggalan oleh zaman.[3] Hal ini dikatakan demikian dikarenakan sekarang adalah zaman yang pesat dengan perkembangan teknologi, dan alat komunikasi semakin pesat perkembagannya dan semakin canggih. Dan hampir seluruh manusia saat ini tidak terlepas dari teknologi. Walaupun demikian, teknologi dalam pendidikan hanyalah sebagai alat fasilitator dalam pembelajaran, sehingga teknologi yang ada seharusnya digunakan dengan tetap sasaran dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan. Handphone, leptop, dan alat komunikasi yang terhubung dengan internet sekarang ini juga merupakan bentuk dari adanya teknologi pendidikan. Sekarang ini kehidupan tidak terlepas dari adanya teknologi oleh karena itu pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja maupun jarak yang jauh tidak akan menjadi halangan untuk tetap melaksanakan pendidikan.

Pendidikan tertua di Indonesia yang berlangsung sebelum abad ke 20 berlangsung secara tradisional. Pada masa itu hanya mengenal satu jenis pendidikan yakni Lembaga pengajaran asli seperti sekolah agama yang ditempatkan di masjid, langar, surau dan sebagainya. Di Indonesia perkembangan teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi di amerika serikat, cina, jepang, dan sebagainya. Dan sejak presiden suekarno juga telah dirintis teknologi pendidikan ini yang ditandai dengan didirikannya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Dan selanjutnya muncul tokoh perintis teknologi pendidikan di Indonesia yang Bernama Yusufhadi Miarso dan kemudian mendapat gelar sebagai bapak teknologi pendidikan Indonesia. Pada priode selanjutnya pemerintah mengirim para akademisi dan para potensial untuk mendalami pemahaman tentang teknologi pendidikan di luar negeri, seperti di amerika serikat, jepang, dan lain-lain. jadi pada masa ini memberikan pengaruh besar pada Indonesia dalam menghadirkan teknologi pendidikan guna untuk menunjang dalam pemerataan pendidikan di Indonesia.[4]

Pada tahun 1987 tepatnya pada tanggal 27 september 1987 terbentuklah ikatan profesi teknologi pendidikan (IPTPI).[5] Pembentukan ini bertujuan untuk menyebarluaskan mengenai teknologi pendidikan, serta penyebaran aplikasi teknologi pendidikan yang dapat digunakan oleh Masyarakat dalam jangka waktu seumur hidup untuk mendapatkan pembelajaran. Selain itu juga sebagai pembinaan profesi teknologi pendidikan sehingga dapat diakui oleh pemerintah. Yang terakhir yaitu adanya Kerjasama antara dalam negeri maupun luar negeri untuk menambah pengetahuan, pengalaman. Dan teknologi pendidikan semakin dikatakan penting ketika masuk kedalam GBHN 1993 dibagian kesejahteraan rakyat untuk program belajar jarak jauh dan penggunaan computer dalam kegiatan pembelajaran.

Sejak saat itu penggunaan teknologi pendidikan di Indonesia mulai berkembang hinga sekarang dan mengalami perubahan yang signifikan dari sebelumnya kearah yang lebih maju. Penggunaan teknologi pendidikan yakni sebagai sumbernya pendidikan. Adanya alat elektronik yang ada pada pendidik maupun peserta didik sangat membantuk dalam proses pembelajaran. Sehingga disini dapat kita lihat bahwa sumber belajar bukan hanya dari guru saja, namun seperangkat elektronik juga termasuk kedalam sumber belajar, sehingga sumber belajar dapat berfariasi bentukmya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakter peserrta didik. Dan seiring perkembangan teknologi juga juga bermunculan metode-metode pengajaran dalam dunia pendidikan yang dapat memudahkan pendidik dalam pembelajaran. Dan juga dengan adanya teknologi pendidikan di Indonesia juga dapat mempermudah dan mempercepat pekerjaan guru seperti penggandaan soal ujian dengan menggunakan mesin Fotocopy dan lain sebagainya. Namun bukan berarti dengan datangnya teknologi tidak akan berdampak buruk pada pendidikan Indonesia. Tentu ada dampak buruknya jika di Lembaga pendidikan tersebut tidak dapat mengontrol pemakaian teknologi dengan tepat sasaran. Ketidak tepat sasaran dalam penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan juga akan berdampak pada tujuan yang akan dicapai oleh Lembaga pendidikan tersebut.

D.   Prinsip-Prinsip Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan lahir dari adanya permasalahan dalam suatu pendidikan. Permasalahan pendidikan yang muncul saat ini, mencakup pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, relevensi, dan efesiensi pendidikan dan peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Permasalahan serius yang masih dirasakan oleh pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi adalah masalah kualitas, tentu saja hal ini dapat dipecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan. Oleh karena itu, Ada tiga prinsip dasar yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran, yaitu:[6]

1.   Pendekatan sistem (system approach), yaitu cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan permasalahan, artinya memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang menyeluruh dengan segala komponen yang saling melekat. Dalam pendekatan sistem ini, pendidik harus memahami bahwa untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang utuh menggunakan teknologi dalam pendidikan, melibatkan berbagai komponen seperti materi pembelajaran, platform online, aktivitas interaktif, serta metode evaluasi. Yang mana ke semua komponen ini saling berhubungan dan bekerjasama satu dengan yang lainnya.

2.   Berorientasi pada peserta didik (learner centered), bahwa usaha-usaha pendidikan, pembelajaran dan pelatihan harusnya memusatkan perhatiannya pada peserta didik. Dengan pendekatan berorientasi pada siswa ini, diharapkan siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar mereka sendiri dengan efektif. Ini juga membantu siswa yang lebih cepat berkembang agar tetap tertantang serta siswa yang memerlukan lebih banyak bantuan untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan.

3. Prinsip pemanfaatan sumber daya pembelajaran dengan maksimal dan beragam (utilizing learning resources), peserta didik belajar karena berinteraksi dengan berbagai sumber belajar secara maksimal dan bervariasi. Ini melibatkan penggunaan berbagai sumber daya seperti materi pembelajaran digital, perangkat lunak pendukung, dan interaksi daring guna menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan bervariasi. Melalui penerapan prinsip-prinsip dasar ini, teknologi pendidikan dapat diarahkan untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang lebih holistik, adaptif, dan berdampak positif bagi perkembangan pendidikan secara keseluruhan.

Adapun apabila seorang tenaga pendidik mengabaikan salah satu dari prinsip-prinsip pengembangan dan pemanfaatan teknologi pendidikan tersebut, maka hal tersebut akan nantinya berdampak pada ketidakoptimalan hasil belajar yang diinginkan atau bahkan tidak akan tercapainya tujuan dari pembelajaran yang diharapkan.



[1]     sukiman, Teknologi Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: CV. SIGMA, 2015), hlm.13.

[2]   Edi Subkhan, Sejarah Dan Paradigma Teknologi Pendidikan Untuk Perubahan Sosial (Jakarta: Kencana, 2016), hlm.2.

[3]    Atwi Suparman, “Konsep Dasar Teknologi Pendidikan” (modul, 2019).

[4]    Edi Subkhan, Sejarah Dan Paradigma Teknologi Pendidikan Untuk Perubahan Sosial,  (Jakarta: Kencana, 2016), hlm.20.

[5]    Haryanto, Teknologi Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2015), hlm.28.

[6]    Unik Hanifah Salsabila and Niar Agustian, “Peran Teknologi Pendidikan Dalam Pembelajran,” Islamika : Jurnal Keislaman Dan Ilmu Pendidikan Volume 3, no. Nomor 1 (January 2021), hlm.123–33.



[1]    Salekun and Ahmad Shofiyuddin, “Teknologi Pendidikan Ruang Lingkup Dan Telaah Dalam Perspektif Pendidikan Islam,” Jurnal Pendidikan Dan Keislaman, Vol. 1, No. 2, (November 2021), hlm.70–77.

[2]    Ahmad Budiyono, “Ruang Lingkup Teknologi Pendidikan Agama Islam Di Era Indrustri 4.0,” Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, Volume 15, Nomor 1, (March 2019), hlm.64–74.



[1]    Unik Hanifah Salsabila and dkk, “Peran Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Di Era Disrupsi,” Journal on Education Volume 03, No. 01 (Desember 2020), hlm.105–106.

[2]    Romi Mesra, Teknologi Pendidikan (Serang-Banten: PT. Sada Kurnia Pustaka, 2023), hlm.2–3.

[3]    Haryanto, Teknologi Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2015), hlm.5–7.