A.    Pengertian Teknologi Pendidikan

1.     Pengertian teknologi

Dalam bahasa yunani teknologi berasal dari kata technologia yang berarti penanganan sesuatu secara sistematik.[1] Kata technologia tersebut diuraikan menjadi dua kata yaitu techne dan logia. Kata techne berarti keahlian, seni dan kerajinan. Sedangkan logia berarti kata studi dan tubuh ilmu pengetahuan. Dalam KBBI teknologi adalah sarana yang memfasilitasi segala sesuatu yang diperlukan dalam melangsungkan kehidupan manusia dan dapat memberikan kenyamanan. Secara bahasa teknologi berarti menyusun atau membangun. Teknologi secara istilah diartikan sebagai sesuatu yang seharusnya penggunaannya tidak terbatas dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pendapat ahli, Roger mengemukakan teknologi sebagai suatu rancangan atau desain yang digunakan oleh manusia sebagai alat bantu dalam mencapai suatu hasil yang diinginkan. Sementara itu Jacques Ellul mendefiniskan teknologi sebagai metode yang mengarah kepada ciri efesiensi manusia dalam kehidupan. selain itu, Gary J. Anglin mengartikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku, alam dan pengetahuan lain untuk memecahkan masalah yang dilakukan secara tersusun.

Jadi, dari beberapa definisi diatas teknologi diartikan sebagai sarana, alat dan cara yang digunakan untuk memecahkan suatu pemasalahan melalui penyampaian pesan dan pengetahuan guna untuk mencapai tujuan tertentu dan disiplin ilmu pengetahuan.

2.     Pengertian Pendidikan

Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata pedagogik yaitu ilmu menuntun anak. Dalam bahasa jawa pendidikan berarti pengolahan, mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak dan mengubah kepribadian sang anak. Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) Pendidikan berasal dari kata kata dasar didik (Mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai ahklak dan kecerdasan pikiran.[2]

Menurut pendapat ahli, Ki Hadjar Dewantara mengartikan bahwa pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memberikan kemajuan dan kesempurnaan anak yang selaras dengan lingkungan. Sementara itu Ahmad D Marimba mendefinsikan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang baik. Sementara itu Prof Zaharai Idris mendefinisikan pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh guru dan peserta didik secara tatap muka dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya.[3]

Pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan dan menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat. Pendidikan juga merupakan proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, dan cara mendidik.

3.     Pengertian Teknologi Pendidikan

Definisi teknologi pendidikan dari (Commision On Intructional Technology) dalam Norman Beswick yang pada intinya teknologi pendidikan adalah suatu komunikasi yang dimanfaatkan dalam pendidikan, adapun dalam berkomunikasi yang diutamakan adalah media komunikasi yang diutamakan alat-alat teknologi atau disebut hardware.

Menurut Yusfhadi Miarso, bahwa teknologi pendidikan merupakan proses yang komplek dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan penyelesaian, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar.

Menurut AECT dalam Warsita teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktik dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkat kinerja dengan  cara menciptakan, menggunakan atau memanfaaatkan dan mengelola proses serta sumber-sumber teknologi yang tepat.[4]

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien, yang tidak hanya sebatas alat dan barang atau perangkat keras (Hardware) tetapi juga Software dan Brainware.

B.    Masalah Pendidikan Di Indonesia

Adapun permasalah yang timbul pada pendidikan di Indonesia yakni bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu faktor pendekatan dalam pembelajaran, faktor perubahan kurikulum, faktor kompetensi guru, faktor sarana dan prasarana, dan faktor anggaran pendidikan.

1.      Faktor pendekatan dalam pembelajaran

Faktor yang terjadi pada lingkungan  masyarakat Indonesia, berawal dari gagalnya suatu sistem pendidikan baik dilihat dari segi pendidikan dari keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Pendidikan dan pembelajaran menekankan kepada perilaku untuk menghasilkan ketertiban dan keteraturan. Paradigma pembelajaran mengutamakan kepada perilaku untuk menghasilkan pembelajaran kepada peserta didik untuk saling menghargai kesamaan dan perbedaan. Dalam hal ini untuk menumbuh kembangkan para anak-anak bangsa dalam dunia pendidikan diperlukan sikap menghargai keberagaman dan perbedaan.[5]

2.      Faktor Perubahan Kurikulum

Kualitas pendidikan di Indonesia sering mengalami pasang surut, salah satu penyebabnya adalah sering terjadinya perubahan kurikulum yang diterapkan dalam pembelajaran. Fenomena ini terjadi ketika pergantian kabinet pemerintahan, termasuk Menteri pendidikan, yang berakibat pada perubahan kurikulum yang ditetapkan. Kurikulum adalah panduan guru tentang arah pembelajaran, tujuan yang harus dicapai, perubahan tingkah laku yang harus dihasilkan, kesulitan dan kelemahan yang mungkin muncul, serta tindakan yang tepat yang harus dilakukan siswa untuk pembelajaran selanjutnya. Kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah harus dipenuhi, namun hanya guru yang dapat memberikan “Hidup” pada kurikulum tersebut agar terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan.  

3.      Faktor Kompetensi Guru

Faktor kompetensi guru ini tidak hanya menyangkut tentang kesejahteraannya saja, melainkan sesuatu hal yang mengenai kompetensi seorang guru yang sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan dan proses pembelajaran. Karena kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru itu sangat berdampak pada hasil proses pendidikan. Adapun  masalah yang sering terjadi terhadap kompetensi guru ini, ialah kurangnya kemampuan guru dalam menggali potensi peserta didik, dan kurangnya perhatian seorang guru atau kepada peserta didik tentang  apa saja yang menjadi kebutuhan utama dari peserta didik tersebut.[6]

Kualitas yang dimiliki oleh seorang guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Dalam kemajuan pendidikan juga dibutuhkan seorang guru yang professional atau ahli di bidangnya. Maksudnya adalah setiap guru harus memiliki kemampuan dan keahlian dalam memahami materi atau bahan ajar secara luas, kreatif dan mendalam.[7]

4.      Faktor Sarana dan Prasarana

Lemahnya mutu pendidikan di negara Indonesia didasari oleh kurangnya sarana dan prasarana. Di Indonesia masih banyak sarana dan prasarana yang harus dikembangkan dan disempurnakan. Terutama perkembangan sarana dan prasarana didunia pendidikan. Pada saat ini dapat diketahui bahwa masih banyak sekolah di daerah-daerah tertentu yang fasilitas sarana dan prasarananya kurang memadai. Bahkan terkadang tidak memiliki sarana dan prasarana sama sekali. Dengan demikian rendahnya fasilitas sarana dan prasarana yang bisa menyebabkan suatu permasalahan dalam dunia pendidikan dan dapat menghambat proses pembelajaran. Selain itu juga rendahnya faktor sarana dan prasarana bisa disebabkan oleh keterlambatan penyaluran dana disuatu sekolah tersebut, penyalahgunaan dana, kurangnya perawatan sarana dan prasarana yang sudah dimiliki, sehingga mengakibatkan para peserta didik yang tidak dapat menikmati fasilitas yang telah disediakan.[8]

5.      Faktor Keterbatasan Anggaran

Ketersediaan anggaran yang memadai dalam penyelenggaraan pendidikan sangat mempengaruhi keberlangsungan penyelenggaran tersebut. Akan tetapi ada sebagian sekolah yang masih kekurangan anggaran dalam pendidikan, yang dapat mengakibatkan kurangnya perkembangan dari pendidikan tersebut. Keterbatasan anggaran ini sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan didalam pendidikan. Hal ini karena kurangnya anggaran yang diinginkan bisa berdampak buruk bagi setiap sekolah untuk memiliki fasilitas. Dengan demikian suatu anggaran disetiap pendidikan sangat dibutuhkan guna untuk meningkatkan kemajuan dan keberhasilan yang ingin dicapai.

Dari beberapa masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat dipaparkan, antara lain: pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Maka, solusi cocok untuk masalah-masalah khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan. Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru.[9]

C.    Pendekatan Yang Digunakan Dalam Menghadapi Problem Pendidikan

Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  Pendekatan adalah suatu proses,  dan cara mendekati suatu sikap atau pandangan tentang  sesuatu, yang biasanya berupa pernyataan yang saling  memiliki keterkaitan. Pendekatan (approach) ialah suatu petunjuk atau cara pandangan atau secara umum dalam  memandang permasalahan atau objek kajian,yang memiliki dampak. Menurut Nurjannah dapat diartikan secara garis besarnya pendekatan dapat dibagi kedalam dua makna. Pertama, pendekatan berarti memandang fenomena (budaya  dan sosial). Pemaknaan ini bermaksud, bahwa pendekatan menjadi paradigma,  Jika memandang pendekatan menjadi  perspektif atau sudut pandang. Kedua, pendekatan berarti disiplin ilmu. Maka dapat disebut pandangan Islam dengan pendekatan sosiologis sama artinya dengan mengkaji Islam dengan menggunakan disiplin ilmu sosiologi. Menurut Roy Killen menyebutkan bahwa ada dua pendekatan  dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang lebih berpusat kepada siswa (student centred  approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi  pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau  pembelajaran ekspositori. Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa  menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi  pembelajaran induktif.[10]

Supyekti menyatakan bahwa pendekatan dalam pembelajaran merupakan suatu model yang memberikan petunjuk kepada guru guna untuk mengatur pencapaian kurikulum dan memberikan petunjuk terhadap langkah-langkah yang digunakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Ahmad Sudrajat juga berpendapat bahwa pendekatan pembelajaran sebagai tolah ukur dalam proses pembelajaran yang merujuk kepada cara pandang manusia yang dapat menginspirasi, mewadahi, dan melatari metode pembelajaran.[11] Selain itu, Komalasari juga mendefinikan pendekatan pembelajaran sebagai sudut pandang terhadap proses pembelajaran yang mengarah  pada suatu pandangan tentang terjadinya suatu  proses yang masih bersifat umum, yang mana di dalamnya melatari suatu metode  pembelajaran dengan rangkuman teoritis tertentu.

Dimyati dan Mujiono juga menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan pengorganisasian siswa yaitu : pendekatan pembelajaran secara individual, pembelajaran secara kelompok dan pembelajaran secara klasikal.

Selain itu juga pendekatan ini bisa dibagi sebagai pendekatan berdasarkan posisi guru dalam menyampaikan materi yang meliputi:

1.     pembelajaran ekspositori yaitu lebih menekankan kepada cara bertutur dalam menyampaikan materi kepada peserta didik

2.     pembelajaran inkuiri yaitu pendekatan yang lebih melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru atau pendidik Sedangkan menurut Rowntree yang dikutip Sanjaya menyebutnya sebagai strategi yang dikelompokkan ke dalam pembelajaran penyampaian-penemuan (expository dan discovery) dan pembelajaran individual dan kelompok (group-individual learning).[12]

Pendekatan pembelajaran menurut Milan Rianto, merupakan cara  memandang suatu kegiatan pembelajaran yang mana dapat memudahkan bagi pendidik untuk melakukan pengelolaannya dan bagi peserta didik dapat memperoleh  kemudahan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan penjelasan diatas pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi dua yaitu :

1.      Pendekatan berdasarkan proses, meliputi pendekatan yang berorientasi lebih terkhususkan  kepada guru/lembaga pendidikan, penyajian bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran nantinya yang mana hampir semua kegiatannya dipegang oleh guru dan staf lembaga  pendidikan (sekolah) sedangkan peserta didik bersifat pasif, dan  pendekatan yang berorientasi kepada peserta didik, penyajian bahan  ajar yang lebih menekankan kepada peran serta peserta didik selama proses  pembelajaran atau peserta didik dituntut lebih aktif dalam kegaitan pembelajaran. Dari sinilah posisi guru hanyalah sebagai seorang yang memfasilitasi atau fasilitator, pembimbing  dan pemimpin didalam kegiatan pembelajaran.

2.      Pendekatan pembelajaran dapat dilihat dari segi materi yang meliputi pada pendekatan kontekstual, yakni penyajian dalam bahan ajarnya yang lebih dikonteks kan pada realita kehidupan disekitar peserta didik dan pendekatan tematik serta penyajian bahan ajarnya dalam bentuk topik – topik dan tema.[13]

D.    Peran Teknologi Dalam Pendekatan Pendidikan

Dari berbagai permasalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan, upaya demi upaya terus diselenggarakan oleh perintah guna untuk mengoptimalkan kesejahteraan pendidikan. Pendidikan pada dasarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan menjadi tanggungjawab bersama mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua (wali murid), dan masyarakat sekitar. Dalam menghadapi berbagai permasalahan pendidikan, ada beberapa peran teknologi dalam melakukan pendekatan, yaitu:

1.      Membangun hubungan komunikasi yang kolaboratif antara pendidik  peserta didik dan sumber belajar. Contohnya penggunaan aplikasi online dalam pembelajaran.

2.      Menyediakan berbagai lingkungan penyelesaian masalah yang rumit, realistik, dan aman.

3.      Membangun makna secara aktif melalui internet untuk mencari dokumentasi pendukung, seperti photo dan video sehingga dapat membantu siswa dalam memehami pembelajaran.[14]

4.      Melakukan penerapan prosedur pengembangan pembelajaran dalam penyusunan Kurikulum struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan, silabus dan perangkat pembelajaran lain, seperti Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

5.      Melakukan penerapan prosedur dalam pengembangan pembelajaran dalam rangka penyusunan bahan belajar, modul, buku teks atau buku elektronik (e-book)

6.      Penerapan metode pembelajaran yang lebih menekankan kepada penerapan teori-teori belajar  seperti teori belajar konstruktivisme dan teori pendidikan lainnya.

7.      Mengembangkan dan memanfaatkan berbagai jenis media yang sesuai dengan kebutuhan dan mengindahkan prinsip-prinsip pemanfaatannya secara efektif dan efisien.

8.      Mengembangkan strategi pembelajaran untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.[15]

Dalam kajian antropologi dan sosiologi secara sekilas dapat diketahui adanya tiga peran teknologi pendidikan:

1.      Mengkolaborasikan wawasan subjek didik mengenai dirinya dan alam disekitarnya, sehingga dengan itu akan menimbulkan kemampuan membaca (analisis), yang dapat mengembangkan kreativitas dan produktivitas.

2.      Menanamkan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupan sehingga keberadaannya, baik secara individual maupun sosial lebih memiliki makna.

3.      Mengekspos ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup bagi individu dan sosial.[16]

 

 

 

 

 

 

 



[1] Ahmad Suryadi, Teknologi dan Media Pembelajaran (Sukabumi: CV Jejak, 2020).

[2] Nurkholis Nurkholis, “Pendidikan Dalam Upaya Memajukan Teknologi,” Jurnal Kependidikan 1, no. 1 (January 1, 1970): 24–44, https://doi.org/10.24090/jk.v1i1.530.

[3] Abd Rahman Bp et al., “PENGERTIAN PENDIDIKAN, ILMU PENDIDIKAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN,” n.d.

[4] Syafril, Eldarni, and Ulfia Rahmi, TEKNOLOGI PENDIDIKAN Peningkatan Kuliatas dan Akses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2018).

[5] Hengki Nurhuda, “Masalah-Masalah Pendidikan Nasional: Faktor-Faktor dan Solusi Yang Ditawarkan,” Dirasah Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar 1 (January 1, 2015).

[6] Yosef Patandung and Selvi Panggua, “Analisis Masalah-Masalah Pendidikan dan Tantangan Pendidikan Nasional” 12, no. 2 (2022).

[7] Siti Fadia Nurul Fitri, “Problematika Kualitas Pendidikan di Indonesia” 5 (2021).

[8] Nurhuda, “Masalah-Masalah Pendidikan Nasional: Faktor-Faktor dan Solusi Yang Ditawarkan.”

[9] Andi Agustang, Indah Ainun Mutiara, and Andi Asrifan, “Masalah Pendidikan di Indonesia,” preprint (Open Science Framework, January 10, 2021), https://doi.org/10.31219/osf.io/9xs4h.

[10] Fadhlina Harisnur, “Pendekatan. Strategi, Metode, dan Teknik dalam Pembelajaran PAI di Sekolah Dasar,” Genderang Asa: Journal Of Primary Education 3 (2022): 20–32, https://doi.org/10.47766/ga.v3i1.

[11] Fauza Djalal, “Optimalisasi Pembelajaran Melalui Pendekatan, Strategi, dan Model Pembelajaran,” n.d.

[12] Turdjai, “Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa,” Triadik 15, no. 2 (Oktober 2016): 20–31.

[13] Milan Rianto, Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran (Depertemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan Penataran Guru IPS dan PMP Malang, 2006).

[14] Niar Agustian and Unik Hanifah Salsabila, “Peran Teknologi Pendidikan dalam Pembelajaran,” ISLAMIKA 3, no. 1 (January 31, 2021): 123–33, https://doi.org/10.36088/islamika.v3i1.1047.

[15] Rayi Arum Fatimah, “TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PEMECAHAN MASALAH PEMBELAJARAN,” n.d.

[16] Unik Hanifah Salsabila et al., “UPAYA DALAM MEMAJUKAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN INDONESIA” 3 (2021).